Selasa, 29 Desember 2015

Perangkat-Perangkat Pada Tower BTS serta Fungsi-Fungsinya

IZIN BANTU SHARE juragaaaan,,,,,,,

Perangkat-Perangkat Pada Tower BTS serta Fungsi-Fungsinya


Base transceiver station (BTS) atau cell site adalah sebuah peralatan yang memfasilitasi nirkabel komunikasi antara pengguna peralatan (UE) dan jaringan. BTS juga disebut sebagai radio base station (RBS), node B (di Jaringan 3G) atau, cukup, base station (BS). Untuk diskusi dari standar LTE yang ENB singkatan untuk Evolved node B banyak digunakan.
Meskipun istilah BTS dapat diterapkan ke salah satu standar komunikasi nirkabel, biasanya dan umumnya terkait dengan teknologi komunikasi mobile seperti GSM dan CDMA. Dalam hal ini, BTS merupakan bagian dari base station subsystem (BSS) perkembangan untuk sistem manajemen. Ini juga mungkin memiliki peralatan untuk mengenkripsi dan mendekripsi komunikasi, spektrum penyaringan alat (band pass filter), dll antena juga dapat dipertimbangkan sebagai komponen dari BTS dalam arti umum sebagai mereka memfasilitasi fungsi BTS. Biasanya BTS akan memiliki transceiver beberapa (TRXs) yang memungkinkan untuk melayani beberapa frekuensi yang berbeda dan berbagai sektor sel (dalam kasus BTS sectorised). Sebuah BTS dikendalikan oleh kontroler orangtua base station melalui fungsi base station kontrol (BCF). BCF ini dilaksanakan sebagai unit diskrit atau bahkan tergabung dalam TRX di BTS kompak. Para BCF menyediakan operasi dan pemeliharaan (O & M) koneksi dengan sistem manajemen jaringan (NMS), dan mengelola kondisi operasi dari TRX masing-masing, serta penanganan perangkat lunak dan koleksi alarm. Struktur dasar dan fungsi dari BTS tetap sama tanpa teknologi nirkabel.
<>Rectifier

Rectifier sebagai penyearah tegangan dari tegangan AC yang berasal dari PLN dikonversikan ke dalam tegangan searah untuk di komsumsi perangkat lainnya. Salah satunya merk PowerOne, terdapat 6 buah modul, yang tiap2 modulnya mensuplai 30 Ampere, karena minimal pemakaian perangkat adalah 45 Ampere, maka paling tidak modul yang berfungsi sejumlah 3 buah modul (60 A).
Biasanya Untuk BTS hanya dibutuhkan tegangan DC sebesar +27 Vdc atau -48 Vdc.
<>Perangkat BTS
Untuk GSM ada 2 buah system, yaitu 900Mhz dan 1800Mhz. Dalam sebuah BTS bisa dipasang 900Mhz saja atau dua-duanya. Telkomsel, Indosat, XL, HCPT (3), dan AXIS menggunakan ini.
Sedangkan untuk CDMA biasanya cuma satu saja yaitu CDMA2000-1X, atau CDMA EVDO, bekerja pada frekuensi 800Mhz digunakan oleh Telkom Flexy, Esia, Mobile–8, sedangkan untuk frekuensi 1900Mhz , saat ini digunakan oleh Smart Telecom.

Salah satunya merk nokia, beroperasi pada frekuensi 900 GHz terdapat 6 modul utama
PWSB : Power suplai independen perangkat GSM/BTS
BB2F : BaseBand/pengatur slot trafik pada bts
WCGA : Combiner antara transmiter ke DVJA
TSGB : TRX unit,menentukan kanal frekuensi
DVJA : Duplexer/output semua sektor, sebagai pemisah antara transmiter dengan receiver
 M2LA : Sebagai combiner receiver ke DVJA
BOIA : Prosesor BTS (bentuk sama dengan BB2F, namun memiliki port penghubung untuk maintenance

<>Antena OMNI
Antenna Omnidirectional di rancang untuk memberikan servis dalam radius 360 derajat dari titik lokasi. Sangat cocok untuk Akses Point untuk memberikan servis bagi WARNET sekitarnya dalam jarak dekat 1-4 km-an. Antenna jenis ini biasanya menpunyai Gain rendah 3-10 dBi.
Potongan medan vertikal memperlihatkan penampang yang medan yang sangat tipis pada sumbu vertikal. Hal ini berarti hanya statiun-stasiun yang berada di muka antenna saja yang akan memperoleh sinyal yang kuat, stasiun yang berada di atas antenna akan sulit memperoleh sinyal.


<>Baterai
Baterei Sebagai backup power ke BTS apabila PLN Padam. Biasanya bisa bertahan sampai 3-4 Jam, tergantung dari Ampere Hour baterei dan Designnya systemnya.
<>Microwave

Microwave system terdiri atas Indoor unit dan Outdoor unit. Indoor unit berada di dalam shelter memiliki port E1 yang dikoneksikan ke Port E1 BTS melalui DDF. Indoor unit juga mendapat suplai tegangan DC dari rectifier yang sama. Sedangkan Outdoor Unit menempel pada Antenna Microwave. Indoor Unit dan Outdoor unit terhubung menggunakan Coaxial Cable.
.
<>Antena Sectoral

Berbentuk persegi panjang, terpasang pada tower dengan ketinggian tertentu berfungsi sebagai penghubung antara BTS dan HandPhone, ada dua type antenna sectoral, yaitu Monotype, biasa dipakai untuk daerah Rural dan Sub Urban dan Dual type untuk daerah Urban (daerah yg padat penduduk).
<>Feeder
Sekilas nampak seperti kabel besar, sebagai media rambatan gelombang radio antara BTS dan Antenna Sector. Ukuran ada yang 7/8, 1-5/8 atau ½.
<>Tower 
Beserta system pentanahannya;  Sebagai media penempatan/penginstalan antenna antenna dan feeder.
<>Shelter
Berada di samping tower, tempat untuk menyimpan equipment (No.1 – 6).

Pengenalan TEMS

Pengenalan Drive Test



                           



IZIN BANTUIN SHARE....  PLEASE...!!!


  1..Pengenalan TEMS

TEMS adalah kependekan dari Test Mobile System yang merupakan perangkat untuk mensetting dan maintaining jaringan seluler. Perangkat TEMS ini merupakan keluaran Ericsson untuk drive test. Pada dasarnya terdiri dari ponsel TEMS mobile phone yang dikendalikan oleh perangkat lunak pada komputer. Salah satu fitur utama dari TEMS adalah menggunakan ponsel dengan bagian radio standar dan daya standar, yaitu suatu ponsel biasa dengan perangkat lunak yang diubah. Maka dari itu TEMS akan berperilaku sama seperti ponsel standar. Namun memiliki fitur tambahan sebagai pengumpul informasi tentang level sinyal dan kualitas sinyal dan banyak lagi yang dipancarkan oleh BTS.


Ada tiga jenis TEMS yang sesuai dengan tujuan penggunaannya, antara lain :


1.   TEMS Investigation

TEMS ini digunakan untuk drive test di luar ruangan (outdoor). Mulai versi 4 sudah dapat digunakan untuk drive test dalam ruangan (indoor). Menggunakan GPS (Global Positioning System) sebagai alat navigasi dan plotting parameter pada rute drive test yang dilalui.


2.      TEMS Light

Jenis TEMS Light ini digunakan untuk drive test di dalam ruangan (indoor). TEMS Light merupakan versi penyederhanaan dari TEMS Investigation dengan menghilangkan beberapa fitur, yang bertujuan mengurangi beban kerja dan konsumsi baterai komputer. Hal tersebut dilakukan karena saat itu komputer portable/laptop masih mempunyai keterbatasan perangkat dan baterai. Data logfile yang dihasilkan TEMS Light sama lengkapnya dengan yang dihasilkan oleh TEMS Investigation. Plotting parameter dilakukan secara manual karena GPS tidak dapat menerima sinyal dari satelit.


3.   TEMS Automatic

    TEMS Automatic ini digunakan untuk drive test di luar ruangan (outdoor). TEMS Investigation dan TEMS Light hanya bisa mengukur sisi downlink saja yaitu dari arah BTS ke MS. Untuk uplink yaitu dari arah MS ke BTS, TEMS Investigation dan Light tidak dapat mengukur karena alat pengukurnya hanya handphone. TEMS Automatic menggunakan sistem client-server untuk pengukuran uplink dan downlink. Client-nya menggunakan MTU (Mobile Test Unit) yang bekerja secara otomatis saat dinyalakan. Hasil pengukuran di MTU dikirim lewat GPRS ke server. Server akan menerima data dari MTU dan mengolahnya.

            Pada Modul ini akan dijelaskan penggunaan TEMS Investigation untuk drive test di luar ruangan.


  2.Pengenalan Drive Test

Drive test merupakan salah satu bagian pekerjaan dalam optimasi jaringan radio. Tujuan drive test adalah mengumpulkan informasi jaringan secara real di lapangan. Informasi yang dikumpulkan merupakan kondisi aktual Radio Frequency (RF) di suatu Base Transceiver Station (BTS) maupun dalam lingkup base station sub-system (BSS) yang dilakukan dengan mobil sehingga pengukuran dilakukan bergerak. Perjalananpun dilengkapi dengan peta digital, GPS, handset dan software drive test, seperti Agilent, Nemo (Nokia), TEMS (Ericsson), dan Rohde & Schwarz.


Selain tujuan umum diatas, dalam proses drive test dapat bertujuan khusus untuk optimasi suatu jaringan seperti berikut :

a).Untuk mengetahui Coverage sebenarnya di lapangan,apakah sudah sesuai dengan prediksi   Coverage pada saat Planning

b).Untuk mengetahui parameter jaringan di lapangan,apakah sudah sesuai dengan parameter Planning dan Optimasi

c).Untuk mengetahui Performansi jaringan setelah di lakukan perubahan seperti penambahan atau pengurangan TRX

d).Untuk mengetahui adanya Interferensi dari sel-sel tetangga

e).Untuk mencari adanya Poor Coverage atau daerah yang memiliki daya terima signal yang rendah

f).Untuk mencari RF issue yang berkaitan adanya Drop Call atau Block Call

g).Untuk mengetahui Performansi jaringan operator lain atau Benchmarking


            


Perlengkapan Drive Test

Proses drive test membutuhkan peralatan-peralatan yang mendukung dalam pengukuran. Dalam modul ini drive test dilakukan menggunakan software TEMS dan adapun perlengkapan lengkapnya sebagai berikut: 

             a.    Laptop

Laptop digunakan sebagai alat monitoring parameter hasil drive test secara visual. Laptop yang dilengkapi dengan software TEMS Investigation untuk mengambil dan mengolah data. Spesifikasi Laptop untuk drive test harus memiliki memori RAM lebih dari 1GB.


b.   Perangkat Lunak TEMS

Perangkat Lunak TEMS yang digunakan untuk drive test di luar ruangan adalah software TEMS Investigation

  

c.    Dongle HASP4

Dongle HASP4 adalah gabungan proteksi antara hardware key (dongle) dan software yang biasanya sudah terintegrasi dengan aplikasi. Software yang terintegrasi dengan TEMS Investigation secara periodik akan memeriksa apakah hardware key tersebut valid atau tidak, jika tidak valid software tidak akan berjalan sempurna. Tujuan dari dongle adalah menggantikan serial number dan hanya komputer yang terpasang dongle yang bisa menggunakan aplikasi terseb

  

d.   Handphone TEMS

Ada berbagai jenis Handphone yang support pada Tems investigationdiantaranya adalah Sony Ericsson K800i, T610, dan W995i. Handphone sebagai terminal untuk panggilan, upload dan download data maupun video call. Dan untuk mengukur kekuatan sinyal yang diterima oleh pelanggan. Selain itu perlu juga disiapkan sim card dari operator yang akan diukur.


 e.    Kabel Data

Kabel data untuk menghubungkan antara computer dan handphone. Kabel data yang digunakan antara lain USB, Serial.


f.    Global Positioning System (GPS)

Sebuah sistem yang dapat menunjukkan posisi benda di permukaan bumi secara cepat, di semua tempat, pada semua kondisi dan pada setiap waktu.GPS ini digunakan untuk tracking rute pengukuran sehingga akan diketahui posisi pengambilan data sepanjang pengukuran drivetest.


  g.      Aksesoris

Perangkat yang mendukung dalam pengukuran menggunakan TEMS, seperti USB Hub, Inverter, dan Charger handphone.


Jenis – Jenis Pengukuran Drive Test 

Jenis-jenis pengukuran drive test dibagi menjadi mode pengukuran dan cara pengambilan data. Pada

mode pengukuran drive test ada tiga jenis, yaitu :      

a.       Drive Test Idle Mode

Pengukuran kualitas sinyal yang diterima MS dalam keadaan idle (tidak melakukan call/sms). Biasanya mode ini dilakukan hanya untuk mengetahuisignal strength suatu area yang terindikasi low signal/no service.

b.      Drive Test Dedicated Mode

Pengukuran kualitas sinyal diikuti dengan pendudukan kanal (long Call/Short Call ke destination number tertentu). Untuk mengukur dan mengidentifikasi kualitas voice dan data.

c.       Drivetest QoS Mode

Pengukuran kualitas sinyal diikuti dengan pendudukan kanal dengan metodecall set up dan call end dengan formula time / command squence tertentu.


Sedangkan untuk cara pengambilan data secara drive test dibagi menjadi empat proses, antara lain :

a.  Single Site Verification (SSV), merupakan drive test untuk memverifikasi setiap site bagus atau tidak.

b.  Cluster, merupakan drive test yang mengukur jaringan setiap cluster atau daerah yang terdiri dari beberapa site namun hanya untuk satu operator jaringan.

c.  Benchmark, merupakan drive test yang membandingkan beberapa operator dalam satu cluster atau daerah

d. Optimasi, merupakan bagian analisa gangguan atau kurangnya service quality pada site yang sudah jadi.


  3.Parameter Drive Test

Meningkatnya jumlah pelanggan sebuah operator tidak hanya berdampak pada peningkatan revenue, namun juga berakibat pada naiknya jumlah panggilan gagal.Kegagalan panggilan bisa disebabkan oleh 3 faktor, pertama komponen dalam ponselnya yang bermasalah, kedua pelanggan memang berada pada luar coverage BTS sehingga saat handover, ponsel tidak tercover oleh BTS lain atau pelanggan berada pada daerah blankspot. Ketiga, jaringan operator yang memang sedang padat.

Faktor pertama tentu bisa diatasi dengan melakukan penggantian komponen, sementara yang faktor kedua tidak bisa berbuat banyak selain menunggu ponsel mendapatkan sinyal kembali, solusinya mungkin bisa dilakukan dengan penggantian simcard operator lain. Pada faktor harus dikembalikan ke operator yang bersangkutan, apakah jaringan yang mereka pasang sudah baik, sehingga bisa mengcover seluruh kawasan. Panggilan gagal seringkali terjadi di daerah perkotaan (kepadatan traffic) dan pegunungan (overlap).  Oleh karena itu dilakukan drive test sebagai bagian dari optimasi jaringan untuk mengetahui parameter-parameter yang terukur agar dapat dievaluasi sehingga dapat dilakukan perbaikan untuk menjamin kualitas layanan yang lebih baik lagi.


Drive Test 2G (GSM)

Parameter untuk drive test GSM ini dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu parameter untuk verifikasi data BTS dan parameter untuk verifikasi kualitas jaringan. Paramater untuk verifikasi data BTS, antara lain :

a.  Broadcast Control Channel (BCCH),merupakan frekuensi carrier yang digunakan pada saat downlink untuk mentransmisikan informasi system. Frekuensi carrier yang digunakan oleh BTS 2G yaitu GSM900: 890-915 MHz dan DCS1800: 1805-1880 MHz

b.   Absolute Radio Frequency Channel (ARFC), merupakan konversi dari BCCH yang bernilai MHz diubah menjadi nomor-nomor kanal.

c.  Cell Global Identity (CGI),merupakan sebuah identititas (ID) yang unik dari cell-cell dalam suatu jaringan seluler untuk mengenali posisi user berdasarkan cell.  Format penamaan CGI, yang terdiri dari :

·  MCC (Mobile Country Code) adalah identifikasi suatu negara dengan menggunakan 3 digit. Untuk Indonesia, digit MCC-nya adalah 510.

· MNC (Mobile Network Code) : adalah 2 digit identifikasi yang digunakan untuk mengidentifikasikan sebuah mobile network atau PLMN. Kombinasi antara MCC dan MNC akan selalu menghasilkan sebuah code yang unik di seluruh dunia.

· LAC (Location Area Code) : adalah identifikasi yang digunakan untuk menunujukan kumpulan beberapa

cell. Dalam sebuah PLMN yang sama, tidak boleh digunakan 1 LAC yang sama untuk 2 group cell yang berbeda.Sebuah LAC dapat digunakan dalam 2 (atau lebih) BSC yang berbeda, asalkan masih dalam 1 MSC yang sama. Informasi lokasi LAC terakhir dimana sebuah MS berada akan disimpan di VLR dan akan

diupdate apabila MS tersebut bergerak dan memasuki area dengan LAC yang berbeda.

· CI (Cell Identity) : adalah identifikasi sebuah cell dalam jaringan seluler. Dalam sebuah PLMN, CI yang sama dapat digunakan untuk 2 (atau lebih) cell yang berbeda, asalkan dalam LAC yang berbeda.

d.   Base Station Identity Code (BSIC), membedakan BTS-BTS berdekatan yang mempunyai   BCCH dan ARFC yang sama.


 Sedangkan untuk kulitas jaringan GSM, memiliki parameter diantaranya sebagai berikut :


a)   RxLev (Reception Level)

     level daya yang diterima oleh MS (Mobile Station) dalam satuan –dBm dimana semakil kecil nilai –dBm-nya maka semakin lemah level daya yang terima.

b)   RxQual (Reception Quality)

Tingkat kualitas sinyal yang diterima MS dengan rentang nilai 0 sampai 7 dimana semakin besar nilai RxQual maka semakin buruk kualitas sinyalnya.

c)   Speech Quality Indicator (SQI)

Tingkat kualitas suara pada saat menelepon yang memiliki rentang nilai antara -20 sampai dengan 30 dimana semakin besar nilai SQI semakin baik.

d)  Call Setup Success Ratio (CSSR)

Standarisasi prosentase tingkat keberhasilan panggilan oleh ketersediaan kanal suara yang sudah dialokasikan untuk mengetahui kesuksesan panggilan tersebut, maka ditandai dengan tone saat terkoneksi dengan ponsel lawan bicara. Standard CSSR ditentukan dalam Peraturan Menteri Kominfo Nomor : 12/Per/M.Kominfo/04/ 2008 bahwa prosentase CSSR harus ≥ 90% .

e)   Call Completion Success Ratio (CCSR)

Prosentase tingkat keberhasilan hubungan sampai berakhir tanpa terjadi drop call. biasanya dari operator ditentukan nilai standarnya agar mencapai > 98%.

f)    Drop Call Ratio (DCR)

Dropped Call Ratio adalah prosentase banyaknya panggilan yang jatuh atau putus setelah kanal pembicaraan digunakan. Dropped call dapat disebabkan beberapa hal, antara lain:

·         Rugi-rugi frekuensi radio

·         Co-Channel interferensi dan Adjacent interferensi

·         Kegagalan proses handover

Standard DCR ditentukan dalam Peraturan Menteri Kominfo Nomor : 12/ Per/M.Kominfo/04/ 2008 bahwa prosentase DCR harus ≤ 5%.

g)   Blocked Call Ratio (BCR)

Prosentase kepadatan panggilan yang disebabkan karena keterbatasan kanal

h)   Call Setup Time (CST)

Waktu yang diperlukan untuk melakukan panggilan dalam satuan detik (s).


Drive Test 3G (WCDMA/UMTS)

Sama halnya pada GSM, parameter untuk drive test 3G juga dikelompokkan menjadi dua yaitu parameter untuk verifikasi data BTS dan parameter untuk verifikasi kualitas jaringan. Paramater untuk verifikasi data BTS, antara lain :

a.  Cell ID,merupakan nomor unik yang digunakan untuk mengidentifikasi setiap BTS atau sektor dari BTS dalam kode area Lokasi (LAC). Pada umumnya digit terakhir dari Cell ID merupakan Sektor ID sel. Nilai 0 digunakan untuk antenaOmnidirectional. Nilai 1,2,3 digunakan untuk mengidentifikasi sektor antena trisector atau bisektris. Misalnya sektor 1 BTS maka digit terakhir cell id-nya 1, dan seterusnya.

b. Universal Absolute Radio Frequency Channel Number (UARFCN),merupakan nomor kanal yang mewakili carrier UMTS sebesar 5 MHz. Nomor kanal UARFCN dihitung sesuai dengan frekuensi yang digunakan dikalikan 5. Misalnya jika frekuensi 2132,8 MHz maka UARFCN = 2132,8 MHz* 5 = 10.664.

c. Scrambling Code (SC),merupakan kode yang membedakan antar sektor BTS atau sel digunakan untuk membedakan user yang satu dengan yang lainnya.


Sedangkan parameter kualitas jaringan pada WCDMA, antara lain :


a.    RSCP (Receive Signal Code Power)

Tingkat kekuatan sinyal di jaringan 3G yang diterima ponsel sama halnya dengan RxLev pada GSM dengan satuan -dBm.

b.   Ec/No (Energy Carrier per Noise)

Perbandingan (ratio) antara kekuatan sinyal (signal strength) dengan kekuatan derau (noise level) atau SNR (Signal/Noise Ratio) yang dipakai untuk menunjukkan kualitas jalur (medium) koneksi. .Fungsinya sama dengan RxQual di jaringan 2G.

c.    CSSR (Call Setup Success Ratio)

d.   CCSR (Call Completion Success Ratio)

e.    DCR (Drop Call Ratio)

f.    BCR (Blocked Call Ratio)

Untuk CSSR, CCSR, DCR, BCR dalam parameter kualitas jaringan 3G sama dengan parameter kualitas jaringan 2G/GSM.


  4.Handover

Handover adalah suatu cara dimana memungkinkan user pindah pelayanan dari suatu sektor ke sektor lain baik dalam satu BTS maupun antar BTS tanpa adanya pemutusan hubungan dan terjadi pemindahan frekuensi/kanal secara otomatis yang dilakukan oleh sistem. Tujuan dari handover adalah untuk menjaga kualitas panggilan, menjaga hubungan antara MS dan BTS dalam proses perpindahan layanan, melakukan pergantian kanal jika terjadi gangguan interferensi yang besar, dan untuk memperjelas batas antar daerah pelayanan MS.

Proses handover dipengaruhi oleh faktor level daya sinyal terima, kualitas sinyal terima, power budenganet sel tetangga dan jarak antara MS dan BTS (Timing Advanced) yang masing-masing mempunyai nilai ambang batas sehingga ketika nilai ambang batas tersebut sudah dilewati handover harus dilakukan untuk menjaga suatu panggilan agar tidak terputus. Proses handover tidak selalu berjalan lancar, walaupun nilai ambang batas sudah dilewati namun tetap tidak mau melakukan handover. Hal tersebut dikarenakan beberapa faktor sehingga menyebabkan kegagalan handover (failure). Kegagalan handover belum tentu menyebabkan suatu panggilan terputus, bisa juga mengakibatkan kualitas suara yang diterima menjadi jelek. Panggilan terputus atau drop call merupakan akibat yang paling buruk jika handover tidak dapat dilakukan sehingga akan mengurangi kualitas jaringannya.

Pengambilan keputusan dari handover ditentukan oleh jenis handover-nya. Pada teknologi 2G/GSM dan 3G/UMTS memiliki perbedaan dalam jenis handover yang digunakan yaitu :

a)      Hard Handover

Hard handoff adalah suatu metode dimana kanal pada sel sumber dilepaskan dan setelah itu baru menyambung dengan sel tujuan. Sehingga koneksi dengan sel sumber terputus sebelum menyambung dengan sel target – untuk alasan tersebut hard handoff juga dikenal dengan sebutan “break-before-make”. Hard handoff dimaksudkan untuk meminimalkan gangguan panggilan secara instan. Suatu hard handoff dilakukan oleh jaringan selama panggilan berlangsung. Jenis ini digunakan dalam teknologi 2G/GSM.


b)      Soft Handover

Soft handoff adalah suatu metode dimana kanal pada sel sumber tetap tersambung dengan user sementara secara paralel juga menghubungi kanal pada sel target. Pada kasus ini, sambungan ke target harus berhasil dahulu sebelum memutus sambungan dengan sel sumber, karena itulah soft handoff juga disebut “make-before-break”. Interval selama terjadinya dua sambungan dilakukan secara paralel bisa saja singkat maupun substansial (tergantung kondisi yang memungkinkan). Karena alasan inilah soft handoff dapat dilakukan dengan koneksi lebih dari satu sel, misalnya koneksi dengan tiga sel, empat atau lebih, semua dapat dilakukan oleh telepon dalam satu waktu. Ketika panggilan dalam keadaan soft handoff, sinyal yang terbaik dari semua penggunaan kanal dapat dimanfaatkan untuk panggilan pada saat itu atau semua sinyal dikombinasikan agar dapat menghasilkan duplikat sinyal yang lebih baik. Kemudian yang lebih menguntungkan adalah, ketika kedua performa dikombinasikan pada downlink (forward link) dan uplink (reverse link) maka handoff tersebut menjadi lebih halus (softer). Softer handoff dapat dilakukan apabila sel yang mengalami handoff berada dalam satu situs sel. Jenis Handover ini digunakan dalam teknologi 3G/UMTS.



sharing ilmu

Kisah perjalanan Master Riyanto

Network Optimization
May 18, 2008 by riyantoro
Dulu sejak magang di XL, ada idealisme tinggi untuk menjadi seorang Network Optimization Engineer suatu saat nanti. Rasanya suatu kebanggaan dan tantangan tersendiri ketika menyandang titel sebagai orang Optim gak peduli untuk GSM ato 3G, bahkan kalo bisa keduanya why not?

Memang aku sempet merintis jalan ke sana lewat RF Engineer, tapi apa daya sekarang terdampar jadi BSS Enginner. Yach, at least masih di bidang telekomunikasi dan masih bisa belajar optimasi jaringan telekomunikasi nirkabel GSM.

Well, awal cerita aku lagi ada case untuk menyelidiki penurunan nilai CSR(CSSR) dan CCR(CCSR) pada jaringan GSM. Kedua nilai parameter itu cenderung menurun dalam beberapa minggu ini, dan menjadi tugasku untuk mengamati dan menemukan problem, kenapa nilainya jelek? Ada beberapa faktor yang biasanya berpengaruh langsung pada besar kecilnya nilai parameter tersebut ketika kita melakukan measurement/pengukuran di MSC kita.

CSR ato biasa disebut CSSR adalah kependekan kata dari Call Setup Success Rate. Nilai ini digunakan untuk mengukur tingkat availability jaringan dalam memberikan pelayanan baik berupa pangglan voice maupun untuk trafik sms dan video call. Jaringan yang baik mampu memberikan kanal kapanpun pelanggan hendak melakukan panggilan, tidak peduli siang maupun malam, gak peduli jam sibuk maupun jam tidur hehehe. Nah dengan mengukur nilai CSR ini kita bisa tau seberapa handal jaringan kita dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan. Biasanya nilai yang diukur dalam persen sehingga nilai yang paling baik adalah 100%

Bagaimana cara untuk menghitung CSSR? Beberapa metode ditentukan tergantung kebutuhan dan tingkat akurasi yang diinginkan. Rumus yang biasa aku gunakan adalah jumlah call attempt – block call dibagi dengan jumlah call attempt dikalikan dengan 100%. Jangan bingung yach, aku mau bikin formula di wordress ini masih bingung n lagi males utak-atik je. :D

Berikutnya adalah CCR, Call Completion Success Rate yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat kualitas jaringan dalam meng-handle trafik pembicaraan maupun sms. Jika CSSR digunakan untuk mengukur kualitas jaringan dalam memberikan pelayanan, dalam kata lain membuka jalan untuk komunikasi, maka CCSR adalah parameter yang digunakan untuk mengukur kualitas jaringan untuk mengelola dan menjaga agar pembicaraan tidak jatuh dan putus begitu saja alias tut..tut..tut ketika kita sedang bertelepon ria dengan pacar kita :D

CCR bisa dihitung dengan rumusan hasil pengurangan jumlah call establish dikurangi jumlah dropped call dibagi dengan call establish dikalikan dengan 100%. Nah dapet dech angka dalam kisaran 0 – 100% yang menunjukkan kualitas jaringan kita. Biasanya tiap perusahaan menentukan target nilai CSSR dan CCSR yang berbeda-beda, tapi semua pengen 100% sih.

Nah, apa sih faktor2 yang menentukan nilai CSSR dan CCSR nilainya naik atau malahan turun? Hmm mari kita renungkan bersama-sama, aku juga sambil mikir nih soalnya lagi cenut-cenut juga :D

Kalo secara logika yang berpengaruh pada nilai CSSR adalah kapasitas sistem, bener khan? Coba kalo kita punya roti 10 potong, tentu hanya 10 orang saja yang akan menikmati, dengan catatan satu roti hanya untuk satu orang donk. Kalo misalnya ada 12 orang yang pengen makan roti, terpaksa dech 2 orang harus diTOLAK, nah dalam dunia telekomunikasi ada opsi untuk menolak langsung alias blocked call, atau menahan dia sebentar sampai ada roti atau kanal baru yang siap digunakan. Nah terkait dengan kapasitas sistem inipun dalam jaringan telekomunikasi tidak hanya terkait dengan kapasitas sistem milik operator bersangkutan. Misal operator A memiliki kapasitas gede trus pelanggannya melakukan panggilan tetapi ke nomor operator lain yang notabene kapasitas trunk ke jaringan operator lain itu kecil, jadi dech bottleneck dan panggilan pelanggan itu DITOLAK lagi. Ternyata kapasitas sistem milik jaringan operator lain berpengaruh juga khan? Tapi apa kata pelanggan? Mereka gak tau dan gak mau tau, yang disalahin ya operator yang dia gunakan hehehe

Selain soal kapasitas sistem, bisa juga kesalahan atau problem ada di perangkat BTS milik operator. Misal BTS A tidak mengindikasikan adanya alarm bahwa salah satu perangkat/modulnya bermasalah dalam menangani trafik tetapi ternyata pas ada call originating dia gak bisa meng-handle. Itu akan berpengaruh pada nilai CSSR karena masuk dalam hitungan call attempt yang gagal untuk mencapai fase call setup dan call establish.

Wah, koq uraiannya jadi banyak yach, padahal belum mengena sampai ke inti permasalahan. Besok lanjut lagi dech.

About these ads


Related
It's about Network Capacity..
In "Telekomunikasi"
Sekilas Teknologi GSM (cont'd)
In "Telekomunikasi"
Berkarir di Dunia Telekomunikasi
In "Tips"
Posted in Telekomunikasi | 77 Comments
77 Responses
on June 11, 2008 at 11:21 am | Replypramudya
mas, untuk menghitung CSSR melalui repgen pada tems, call attempt retry diikutkan jadi perhitungan gak ? (jadi Call Setup Success/Call Attempt+Call Attempt retry)


on June 12, 2008 at 8:58 am | Replyriyantoro
CSSR
=(Call setups-blocked calls)/call setups * 100%


on July 10, 2008 at 2:21 pm | Replyrizkykurnia
hmm…menurut saya CSSR = (1-SDCCH block)*(1-SDDCH drop)*(1-TCH block)*(1-TCH drop) sedangkan kalo untuk pengukuran di TEMS call attempt retry kadang ada yang memasukkan kadang ada yang tidak…contoh operator yang memasukkan perhitungan call attempt retry itu indosat.


on August 6, 2008 at 5:03 pm | ReplyAlfin
semoga ada yg mau sharing license actix :(
aku ada crack pathloss di http://sinauonline.50webs.com/Download%20Area.html


on August 5, 2009 at 2:45 pm | Replydsatech
aku ada mas actic,tp gk free..tp murah kok,bs japri klo berminat ke adiaksa18@yahoo.com


on October 24, 2008 at 3:44 pm | Replyaditz
wah sama ni.. akibat magang di xl,saia juga pengen jadi network optim ^^
bekal2x yang kudu disiapin ap aja ya mas?? trims2x..


on November 20, 2008 at 5:03 pm | Replysari
Mas mo nanya kalo misal CSSR rendah di sebabkan karena Immediate assign success rate nya rendah, TCH assign success nya OK dan SDCCH drop rate nya rendah juga.
Kira2 penyebabnya apa ya??
Apa…. karena interference atau apa gtu
Maklum mas newbie di telekomunikasi
Ada web yang buat belajar ttg performansi network ga siy?? Atau buku nya apa ya???


on August 5, 2014 at 11:24 am | Replyriki
HI,Sari,,, Maaf nama lengkap kamu wulan sari soendoro yah?


on December 12, 2008 at 10:52 am | Replydiana
As…
pengen juga kerja bagia optim, baru magang juga b di optim XL,…
tp cewek bs g y b…
soalna waktu kp g da yang cewek staffna….
—-^_^—-


on December 12, 2008 at 12:09 pm | Replyriyantoro
gak masalah koq..
gak ada gender gitu di dunia optim hehe
Percaya dech, cewek punya kelebihan lebih rajin daripada cowok
Yang penting ada kemauan untuk belajar ajah

Ayo semangat..


on December 13, 2008 at 1:07 pm | Replytata
mz salam kenal..
mo nanya nich mz. selain dgn penambahan DCS 1800 untuk mengatasi kapasitas, optimasi kapasitas untuk mengatasi drop call pd jam sibuk dgn ap y mz? parameter-parameter yang perlu diperhitungkan&diperhatikan p ja y.
maturnuwun sebelumnya :-)


on December 13, 2008 at 5:39 pm | Replyriyantoro
Biasanya kapasitas masih bisa ditambah dengan mengaktifkan halfrate, jadi kanal yang dipake dibagi 2, 1 kanal dipake berdua..
Kalo Fullrate khan 1 kanal 1 pelanggan gitu
Tapi emang kapasitas itu yang utama, lebih bagus lagi kalo ada traffic sharing dengan BTS sebelah..
Bisa juga kita menggunakan sistem antrian, panggilan yang masuk namun tidak mendapatkan kanal tidak langsung ditolak namun kita tampung dulu beberapa saat sampai ada kanal yang idle dan bisa dipakai..

Gitu dech
Ada yang bisa membantu sharing? :)


on December 22, 2008 at 6:52 pm | Replyomar
malm bang…
ini saya baru di dunia telco..
yang saya mo tanya hal yang berpengaruh dengan CSSR itu KAPASITAS SISTEM tapi apakah kondisi dari sebuah intalasi berpengaruh….

thank

omar


on December 22, 2008 at 6:56 pm | Replyomar
oh ya satu lagi… apakah yang blokedcall itu bisa kita kontrol… karena ada satu kasus waktu saya ngejalanin project DT setelah dilihat index statisticnya ada 1 kondisi blokedcall dan akhirnya saya di suruh ulang u/ pengambilan sample…

maaf ya kalo pertanyaanya sangat cupu….
maklum newbie neehhh

thank again

omar


on December 24, 2008 at 9:59 am | Replyabdi
salah tu mas..

CSSR tu g da hub ma blk kol..

CSSR = (Call Establish / Call Attempt) x 100%


on December 26, 2008 at 7:14 am | Replyriyantoro
Saia khan udah bilang , tiap operator ada sedikit perbedaan..
CMIIW


on January 5, 2009 at 3:20 pm | Replytata
met sore mz

maf mz.
mz punya punya materi traffic sharing dengan bts sebelah g?
kalo ada bisa dikirim ke email sy

maturnuwun


on January 6, 2009 at 4:39 pm | ReplyD3D7
Call Establish = Call Attempt-Block Call
Jd maksudnya y sama aj


on January 9, 2009 at 1:46 pm | ReplyArief
Halo mas salam kenal

wah akhirnya nemuin juga blog yg shre Optim…saya baru aja terjun di telco….skrg lg DT neh..sambil belajar optim…saya mo nanya…saya menemukan waktu DT pada saat call establish kemudian terjadi call end..padahal waktu call end adalah 2 menit ttp di TEMS bukan drop call…kira2 knapa ya mas….

makasih


on February 5, 2009 at 8:45 am | Replyzhang
Salam Kenal,
Saya juga baru terjun ke dunia optom nih,
ada yang punya materi tentang ilmu yang satu ini gak ya?

thanks


on February 6, 2009 at 5:47 pm | Replymc_sea
salam kenal mas

mekanisme traffic sharing itu bgmna?
apakah traffic sharing selalu di settimg lewat BSC?
ataukah bisa dilakukan tanpa BSC

trimakasih atas perhatiannya


on February 16, 2009 at 10:47 pm | Replyboyke pardede
Dear Mr. Riyantoro,

How about in CDMA?

I agree with u…about low cssr in GSM.


on February 26, 2009 at 8:38 pm | Replypinandita
salam kenal mas,,,
mas,saya td juga udah kirim comen di postingan sblumnya,,

mas saya pengen ambil TA di optimasi,,
tp masih bingung mau optim dmna?,,
mas,bisa minta bimbingannya,,


on March 2, 2009 at 3:59 pm | Replyriyantoro
@ pinandita
Kamu kuliah di mana Bos??
Saranku coba aja cari kantor operator di kotamu saja
gimana??


on March 6, 2009 at 11:48 am | Replyesterlyta pandjaitan
wah.. mas riyantoro hebat, pinter banget yah ..
mas..mas.. cssr bagus dan tidak bagus tuh batas nilainya berapa ya?

apakah permasalahan besar kecilnya signal (coverage), interference frequency, terus masalah radio link yg pakai antena “tong”, juga berpengaruh terhadap cssr ya? pengaruhnya gimana ya, mas?

saya tuh disuruh-suruh sama engineer saya buat drive test, katanya disana ada masalah cssr, lha saya kan nggak tahu apa2..pokoknya drive test sampai ketemu sample call failures. cape deh, mas .. ada saran nggak mas, buat saya ngebales engineer saya.. maksudnya ada jurus untuk menemukan penyebab cssr jelek lewat drive test?

wah .. trimakasih banyak ya mas riyantoro ..mas cakep deh..tapi koq fotonya nggak keliatan mukanya ya..? digedein dunk ..


CSSR? Kalo bisa ya 100% hehehe
Biasanya beda operator beda nilai yang dipatok, beda wilayah juga biasanya berbeda. CSSR yang ditargetkan operator ke engineernya untuk area Jawa inner akan berbeda dengan CSSR yang ditargetkan untuk engineer dengan wilayah kerja di Kalimantan outer, even Papua outer. Semua menyesuaikan dengan kepadatan wilayah, besarnya network, dan juga kapasitas :)
Sebagai patokan, mungkin bisa digunakan angka 99% yach
Ini bukan angka mutlak, dan akan lebih bijak sebenarnya kalau mba ester tanya langsung ke engineernya. Penyebab CSSR jelek biasanya karena blocking. Bisa juga karena interferensi frekuensi, ada operator lain atau BTS lain yang menggunakan frekuensi yang sama dengan yang kita pakai.
Tapi coba pastikan dulu kalau kapasitas BTS kita sudah mencukupi dan nggak blocking yach..

Selamat belajar..

Riyantoro



on March 20, 2009 at 11:11 pm | Replypinandita
oia mas,,
qu kuliah di it telkom semester 6,,
qu mau kerja praktek,
syukur2 bisa mendukung Tugas akhir yang aq kerjain,,
makasih sblumnya


on March 21, 2009 at 10:03 pm | Replyriyantoro
Saranku coba apply ke XL Bandung Bro…
Di sana kamu bisa banyak belajar dari engineer optim yang jago-jago
Coba dech, pasti kamu ntar bisa dapet banyak ilmu dan pengalaman..

Best Regards,

Riyantoro


on April 21, 2009 at 12:23 am | ReplyEP
Kindly removed/change the question/comment on your blog under the name of esterlyta pandjaitan since whoever that is using that name definitely not the person who he/she claimed to be.


on May 28, 2009 at 8:21 pm | Replymee
malam mas
mau nanya nihh.. tentang paramter performnasi untuk Jaringan GSM 900
aq masih bingung krn byknya paramter performansi pada GSm
sy kmrn dapet mas standarisasinya dr slide kul ITT
ada 8 sedangkn yg sy baca di Forum telekomunikasi yg lain beda dengan yang
dapt dislide ITT?
jadi sy mau tanyakn TARGET performansi untuk jaringan GSM apa ja mas??
trs klo bisa mnt referensinya mas dari mn??
mohon ditanggapi
jawaban mas sngat22 membantu Tugas Akhir saya
maksih sebelumnya

^_^


on May 30, 2009 at 8:50 am | Replyriyantoro
ada banyak sih, aku coba sebutin beberapa ya
Mohon temen-temen bantu lagi kalo ada yang kurang :)
1. CSSR (Call Setup Success Rate)
2. CCSR (Call Completion Success Rate)
3. HOSR (Handover Success Rate)

Itu aja kali yang utama
Kalo yang lain yang harus dihilangkan semacem dropped call, blocking (baik TCH maupun SDCCH). Kalo untuk paket data biasa dilihat throughputnya, gprs accessibility, gprs/hsdpa retainibility
Ada tambahan lagi temen-temen lain??

Regards,


on June 3, 2009 at 11:01 am | Replymee
Ohh gt ya mas
trs mau nanya lagi nih mas?
mas aq dapat referensi klo target performsi GSM
ada 8
diantaranya
1 TCH Call Blocked
2 TCH Assign Success Rate
3 Call Success Rate
4 Drop Call Rate
5 SDCCH Call Blocked
6 SDCCH Assign Success Rate
7 Handover Success Rate
8 Handover Failure rate

tau formulanya ga mas???

mohon bantuannya..plasee…


on June 5, 2009 at 9:57 am | Replybtn
welah dalah…sajak e wis maut ilmu ne rek…jek eleng sinergy ra ?


on September 5, 2009 at 3:23 pm | Replyriyantoro
siap dab!
hehehe


on August 7, 2009 at 11:06 pm | Replyhery
malem mas, mo nanya ni. kenapa sih rumus okumura hatta bisa dipakai dalam telekomunikasi selluler indonesia


on August 31, 2009 at 3:32 pm | Replyolayanto
haluu mas riyantoro

mau tanya donk apakah di operator ada alarm or apalah yg menunjukan bahwa area pancar suatu sektor seberapa besar??masalahnya saya sempet bingung pas lagi DT di daerah PANTURA..kondisinya saya sedang berada di tengah2 site..alhasil hanset saya ga bisa handover..pas bgt di tengah2 dua site..klo kondisinya kya gitu optimasinya bagaimana yah mas??

saya juga pernah test HSDPA di daerah karawaci..permasalahan disini cukup kompleks..coz pada jam tertentu saya ga bisa download pake HSDPA,pasti aja down ke 3G..cukup pusng nih mas klo gini..optimnya bagaimana yah??

thanks and regards,

oLay


on September 5, 2009 at 3:28 pm | Replyriyantoro
ndak ada tapi kalo kita analisa data dari measure BSC kita bisa lihat jarak pelanggan yang menggunakan network kita ada di TA (Timing Advance) berapa (u/ case 2G)
Kalo network 3G khan ada fenomena cell breathing, di mana coverage network bisa mengembang dan mengempis sesuai penggunaan bandwidth oleh pelanggan yang jaraknya dekat dengan BTS

Untuk case ndak bisa HO kayak gitu, coba check dulu parameter HO di kedua BTS. Check dulu apa keduanya sudah saling kenal a.k.a dah create jadi neighbour satu sama lain. Kalo belum silahkan di create karena kalo tidak ya HO gak bakalan terjadi. Check juga level HO yang bisa diterima oleh BTS. Jangan sampe kita setting RxLev jelek dikit dah ditolak untuk incoming HO

Untuk case HSDPA coba dicheck dulu link Iub/Ater ke RNC dari NodeB-nya. Sapa tau ada yang flicker sehingga HSDPA jadi sering ilang karena kalo Iub/Ater berkurang jumlahnya maka kita susah aktifin HSDPA karena bacdwidth yang menyempit.
Coba dech tanya BSS Engineernya, ada alarm ndak di Node-B nya

Semoga sedikit membantu,
Kalo ada tambahan/ingin meluruskan sangat welcome
Kita sama-sama belajar

^_^


on October 13, 2009 at 11:44 am | ReplyLinda
salam kenal mas..

asik nemuin blog yang share optim,hehe..
aku sekarang lagi kerja praktek juga ni mas di XL Bandung, di divisi optim.
jadi tertarik juga ni pingin masuk ke optim..

mas dulu belajar apa ja pas magang?
aku baru belajar drivetest ma buat aplikasi web untuk monitoring kualitas jaringan ni..

thanx and regards,

linda


on March 18, 2010 at 10:31 am | Replyikal
mas emang kalo mau jadi engineer gsm gitu kudu lulusan kuliahan ya?

tq..


on April 13, 2010 at 11:26 am | ReplyIskandar
salam kenal mas…

mas mau tanya kalau penambahan ater caranya bgmn ya?? atau ad diagram nya gt??
maklum lg baru belajar neh

tks.


on September 8, 2010 at 10:03 am | Replyrizal
mas riyantoro yang cakep,
mau tanya dgn pertanyaan yg sama dgn yg sebelumnya.Tau formulanya item dibawah ini gak mas..?

1 TCH Call Blocked
2 TCH Assign Success Rate
3 Call Success Rate
4 Drop Call Rate
5 SDCCH Call Blocked
6 SDCCH Assign Success Rate
7 Handover Success Rate
8 Handover Failure rate

Thanks a looottt..


on December 5, 2010 at 2:57 pm | ReplySand's
Salam 1 Jiwa

Cool abis dah… kang Riyantoro emang T.O.P B.G.T,
Thanks atas tambahan ilmunya. I Like Its

Bravo kang Riyantoro..


on January 13, 2011 at 1:22 pm | Replytito
ini mas riyanto yang tsel palu bukan ya?


on April 22, 2011 at 1:13 am | Replypassya
wah jadi tertarik sama optim nich mas …..
mau tanya mas kalau di antara
1 TCH Call Blocked
2 TCH Assign Success Rate
3 Call Success Rate
4 Drop Call Rate
5 SDCCH Call Blocked
6 SDCCH Assign Success Rate
7 Handover Success Rate
8 Handover Failure rate

parameter apa yang kita mainkan


on May 12, 2011 at 2:16 pm | ReplyEko
Diatas kan untuk menghitung CSR nah klo untuk menghitung CDR ama TCH gmn mas ???


on May 23, 2011 at 7:34 pm | Replyboyke
salam kenal mas riyantoro

saya tertarik buat belajar optime maklum newbie di optime saya kebanyakan jadi bss engineer. ada tutorialnya ga mas kalo ada saya boleh minta sent japri ke email ( tq banget kalo ada)


on June 17, 2011 at 10:55 am | Replyriyantoro
Mas klo saya masih based on practice siy jadi belum ada tutorial bakunya
Nanti saya share kalo udah saya bikin dech
Untuk sementara ya masih sekedar bikin postingan-postingan pendek begini

Salam,


on October 18, 2011 at 10:38 am | ReplyBejox
salam sukses mas riyantoro.

mas riyanto punya solusi ga, untuk case drop call di daerah yg tinggi dan terbuka.

Di darah tersebut banyak sekali BCCH yg terdeteksi dengan Rx level yang sering naik turun dengan range yg cukup jauh ( bisa sampai 20 dBm) bahkan bisa hilang. hal ini sering kali menyebabkan drop call karena rx level yg tiba-tiba drop dan tidak bisa HO. Adjesenya sengaja tidak di create karena kalo di create semuanya kondisi di bawah yg akan semakin kacau.

Tolong di share pengalamannya maz riantoro

Thank


on October 20, 2011 at 12:04 am | Replyriyantoro
Salam kenal Mas
Wah case study nih.. Kayaknya mantaf untuk didiskusikan :)
Ada cell yg dominan gak ya? Klo banyak yg cover mgkn bs dimainkan macro micro cell untuk reselection dan HOnya
Udah cb mainin nilai CROnya? Pasti ada cell yg dominan khan di aitu? Memang klo dicreate adjacent riskan terjadi pingpong HO siy, tp klo nilai CRO dan offset HO yg pas kayaknya bisa dikurangin ping pong nya..
Sambil nunggu comment expert2 di sini
Mari berdiskusi.:)
Klo pengalaman saya sih ada cell yg dominan jd traffic cenderung dia serap sedangkan cell lain support aja
Pastikan cell macro tdk blocking hehe Atau bs mainkan umbrella cell..

Salam,


on October 20, 2011 at 5:06 pm | ReplyBejox
untuk cell dominanya ada sih mas, Rx lev nya berkisar di -80an dBm dan trafiknya masih sedikit (belum bloking), tetapi terkadang ada sinyal pantulan dari cell lain yg rx lev nya lebih tinggi (-70an dBm). nah sinyal pantulan ini yg sangat merepotkan soalnya hanya muncul beberapa saat saja. kalo sewaktu call dia yg servis pasti repot dah.
untuk sementara ini aku cm menambahkan repiter di rumah tersebut dan lumayan mengurangi tapi tetep belum 100% BERSIH. (maklum rumahnya gubernur, wkwkwk). untuk ngotak-atik database aku belum berani bos, aku masih di level DT dan belum dapat akses sampai kesitu. ini hanya ingin tau dan mengobati rasa penasaran saja.

oh ya kalo mau ngerubah parameter yg berkaitan dengan optim cell tersebut apa cukup dari aplikasi citrik saja??

Terimakasih atas masukanya mas rianto dan temen- teman yang masih mau menanggapi pertanyaan saya diatas dengan memberi langkah-langkah yang
lebih detail, siapa tau beda orang beda pula solusinya..


on October 25, 2011 at 12:40 pm | Replyriyantoro
mainkan tilting antena yg mengarah ke area situ aja Mas..
Overshoot itu yg level -70dB, merusak yg laen aja
Trus pastikan jagan masukin cell yg overshoot itu ke dalam list HO target dan reselection ya..

Salam,


on October 30, 2011 at 12:46 am | Replyady
salam kenal nech mas dr sy [Ady]
saya baru terjun di telko
saya tertarik belajar optim nech mas…kira ada tutorial dasar yg bisa di share g ya mas..klu ada tolong dong mas kasih simpenannya. minta waktunya dikit buat send ke email sy (adhypratama.p@gmail.com)
tq


on November 25, 2011 at 5:33 pm | Replymitha
mas klo boleh nanya
rumus TCH Assign Success Rate pa y mas???


on December 9, 2011 at 4:33 pm | Replydawud
Mas mau nanya nih…bagaiman cara testcall supaya semuanya bisa dapat bagus:

Cell Avail
RRC Success Rate
CSSR CS Voice
CCSR CS Voice
CSSR UDI
CCSR CS UDI
CSSR PS, NRT
CCSR PS
SHO Success rate
ISHO Success Rate
CSSR HS
CCSR HS


on December 12, 2011 at 12:08 am | ReplyRizqie77
wah, blog-nya menarik, comment2-nya ok, ok…sip, sip, ijin bookmark ya gan…:)

BTW case-nya mas bejox menarik bgt, klo boleh nambahin, cb di check Adjacent Cell list dari Cell yg dominan tersebut mas, dicheck juga HOSR cell per Relation, bisa minta data Adjacent Cell list dan Statistik HOSR cell per Relationnya dari OSS, terus cocokin ma hasil Drive test dan TA measure dari plot map info, klo ada Adjacent cell yg kira2 overshoot jadi relation cell dari cell yg dominan, hajar delete aja, apalagi klo bikin HOFail rate-nya tinggi…CMIIW

Mas Riyantoro,biasa megang perangkat apa mas?


on December 12, 2011 at 7:11 pm | Replyriyantoro
Dulu siemens, trus jd nsn skrg barang cina hahahaa
Sampeyan megang apa Mas?


on December 14, 2011 at 12:39 pmRizqie77
saya biasa megang Nokia tapi masih nubitol owk mas, padahal dah 3 tahun..hehe2, Dulu DT, trus OSS, trus yg sekarang belajar Optim..

ak punya usul mas, gimana klo kita bikin mailist grup khusus bwt ajang diskusi Seputar Telco, khusus jg bwt yg masih nubie2 kayak saya dan temen2 yg lain, kita bisa saling tanya dan sharing knowledge seputar telco, syukur2 bisa ngasi info lowongan kerja….mirip Parakontel gitu, tapi yg ini khusus Nubie2…gimana? mas Riyantoro kan dah expert, bisa juga jadi mentor kita2…:)


on February 27, 2012 at 3:06 pm | Replyaan
ahayyy ikutan gabung dung gan,,,


on March 29, 2012 at 3:46 pm | ReplyRiantono
Lagi belajar Optim nih mau nanya dari dasar dulu

jika dari satu trx terdapat SDCCH dan SDCCB artinya apa dan jika hanya ada SDCCB terus perbedaan SCCH dan SDCCB apa juga fungsi dari SDCCB dan SDCCH

Thks


on May 5, 2012 at 1:41 am | ReplyAditya Setia Basuki (@Aditya_Cullen)
Wih, Ilmu telekomunikasinya banyak banget ni mas riyantoro, salut deh buat sampeyan :)
saya juga karyawan di salah satu operator terbesar di Indonesia, tapi masih newbie, mau belajar lebih banyak lagi, Mohon bimbingannya ya mas?
ada email atau facebook?

Best regards,


on June 2, 2012 at 3:36 am | Replysony
mas saya mau tanya dong…
saya baru terjun dunia kya gini nih…
terkadangkan user minta hasil yg chip untuk laporan moderisasi baik 3G maupun 2G…
cara mengurangi rxlev.ecno dan rscp gimana ya…agar hasil record untuk before lebih jelek dari afternya…
mohon pencerahannya
tks


on June 24, 2012 at 12:54 am | Replyriyantoro
Wah, intinya harusnya bukan bagaiman membuat hasil DT before lebih jelek, tapi bagaimana membuat hasil DT after lebih baik Mas..
Konsep awalnya dah salah tuh sampeyan
hehehe
Mumpung masih baru be;ajar, ayo diperbaiki konsep dasarnya
Namanya optimasi khan memperbaiki atau memaksimalkan jaringan
Dengan resource yang ada, bisa menghasilkan performance yang lebih baik

Salam,


on June 28, 2012 at 7:05 am | Replymarisa
mas akuau nanya kalau yang berpengaruh terhadap terjadinya blockedcall itu apa saja mas?? apa karena traffic yg penuh saja?
lalu kalau nilai dari parameter RSCP rendah berpengaruh ga terhadap blockedcall?
untuk parameter PDP CASR itu perolehan nilainya diliat berdasarkan apa ya mas??
mohon bantuannya ya mas..
lagi nyari2 bahan untuk ta.. hehehe..


on July 6, 2012 at 5:25 pm | Replyriyantoro
Bisa karena overload, semua kanal penuh, bisa karena problem hardware, bisa juga karena salah database hehe
DIcek satu-satu dech


on July 14, 2012 at 11:16 pm | ReplyFauzi
@riyantoro
Mas ane seneng bgt klo bicara optim, impian ane mas menyandang status itu..he walaupun bnr2 ga tau prepare apa ja yg msti di siapkan..

Boleh sharing mas atau agan2 smua apa aja sih yg mesti disiapkan untuk memulai OPTIM.. ane sdikit tau ttg drive test 2G dan 3G tp familiar dengan TEMS… mohon pencerahaanya untuk berbagi info.. makasih


on July 20, 2012 at 9:18 am | Replyriyantoro
Lanjutkan dengan mempelajari parameter-parameter BSC dan RNC :)
Nah klo dah dikuasai tinggal dimainkan parameter itu sesuai goal kita dalam melakukan optimasi jaringan
Itu garis dasarnya hehe
Intinya khan bagaimana mendeliver jaringan yang lebih baik baik itu dengan melakukan perubahan database, maupun melakukan perubahan fisik antena

Salam,
Riyantoro


on August 6, 2012 at 3:14 am | Replymulki
permisi gan, saya juga orng baru di dunia telkom,
mau nanya nih, kalau SDSR itu sebenarnya untuk mengukur apa…??? dan kalo SDSR nilainya turun apa penyebabnya….?? dan parameter apa saja yg perlu di perhatikan jika Nilai SDSR-nya turun..?? terima kasih sebelumnya gan …


on October 6, 2012 at 2:17 am | ReplyBonz
SDSR = SDCCH Succses Rate, CSSR = Call setup succses Rate, gak ada beda, intinya kan Kpi (value) untuk menentukan seberapa besar keberhasilan untuk melalui proses “call setup”, sebelum menuju TCH

Penyebab turunnya SDSR/CSSR,

1. SDCCH blocking
– jika availability diatas 98% langsung saja tambahkan 1 SDCCH
– jika DCS yg blocking, bisa di kurangin CRO/REO nya (cell re-selection offset) sehingga tidak terlalu agresif, jika GSM (yg di colo nya ada DCS, bisa di share ke DCS colo nya (tanpa blocking) dengan menaikkan CRO/REO nya step 2 ya, pelan2 dulu)
– overshoot juga bisa menyebabkan SDCCH blocking (tilting, adjust ami etc)
– jika cell berada di area border LAC, bisa di mainkan parameter hysterisis nya, DCS bisa mainkan REO agar tidak terlalu agresif
dan lain lain dan lain lainnya :)

2. SDCCH Drop
– sebelumnya kita mesti mencari tau apa penyebab SDCCH drop ini (due to nya), ada due to radio, abis, aif, lapd, transcoder etc etc.. dan seorang optim hanya responsible dari sisi radio, selain itu kita bisa mengeskalasi kan ke pihak terkait mengenai permasalahan nya (ke pihak operator misalnya), apakah ada masalah di transmisi yg flicker dan lain nya (buanyak sekaleee).
– SDCCH drop due to radio :
* interference – bisa kita cari sendiri freq yang lebih bersih, atau bisa kita minta tolong RNP (planning) untuk plan freq baru nya.
* overshooting poor UL — >cek TA distribution lalu lakukan physical tunning (tilting) , atau bisa juga kita mainkan ami dan power (sangat tidak direkomendasikan) -_-”
* Alarm – apakah ada hardware issue?
* TRX quality yg buruk, bisa kita coba untuk shifting (pindahkan) SDCCH ke TRX yang lebih bagus quality nya…

dan masih banyak lagi danlain nya dan lainnya….

*CMIIW :p


on October 9, 2012 at 12:11 pmriyantoro
Mantab kalee sharing nya abang satu ini
Lanjuut… :)


on October 6, 2012 at 2:22 am | ReplyBonz
just blog walking :)


on November 5, 2012 at 11:08 pm | Replybonki
selamat malam mas riyanto,,
saya mau bertanya tentang performansi
1.TCH Assign Success Rate
2.Perceive Congestion rate
mohon penjelasan tentang pengertiannya
jujur saja saya masih belum paham pada saat apa 2 parameter tersebut terjadi


on December 2, 2012 at 8:16 am | Replywandana
Waaaah.. Ilmunya manteeeb bener mas riyantoro niih…
Mas, numpang tanya.. Parameter apa ya yg ekstrim untuk bsa nurunin perceived drop / tch_drop_asg_ratio..? Selain memperhintungkan congestion rate masing2 cell, amr, dan site audit, apa lagi ya parameter yg bsa ekstrim mengurangi drop..? Mohon dibantu untuk pencerahannya.. Ehehehe…


on May 12, 2013 at 10:31 am | Replyputra
Master2 Telco, mau nanya nih, adakah rumus untuk mengoptimasi parameter soft handover (time trigger, reporting range dan hysteresis ) pada sistem WCDMA/UMTS ?

Klo ada tolong kirim ke email saya : rahmatikhsan@gmail.com


on July 12, 2013 at 8:28 pm | Replyjeep
mantap bener info blog nya…ijin bookmark ya mas rian..


on July 29, 2013 at 1:27 pm | Replyian
mas riyan, mau tanya..
DCS tu apanya GSM ya?
setau saya kan GSM 1800 juga ada,
saya masih newbie banget, baru semester 2 ini kuliah di telkom..
makasih mas,


on December 17, 2013 at 2:37 pm | ReplyParameter 3G (Third Generation) | Catatan Pribadi Dian Sulistyo
[…] blognya mas riyantoro […]


on February 23, 2014 at 11:01 am | Replyachmadnashirudin
Reblogged this on achmadnashirudin.


on August 6, 2014 at 4:17 pm | Replyyulia anita
Mas aku mau nyanya kalau settingan cahanel juga mempengaruhi cadel ga?